Lazuardi haura GIS

My photo
Bandar Lampung, Lampung, Indonesia
Lazuardi Haura Global Islamic School cabang dari Lazuardi Global Islamic School- Pusat, adalah sekolah-sekolah yang berada dibawah naungan yayasan Lazuardi Hayati, yang diketuai oleh Dr. Haidar Bagir, dengan konsultan pendidikan Munif Chatib dan sayd Hedar Ali. Merupakan sekolah yang berwawasan global dan menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan pendidikan (KTSP) dan mengadopsi kurikulum internasional dan standar dari University Of Cambridge International Examinations serta berpandangan islam progresif, mengedepankan pemahaman mengenai perbedaan dan toleransi, termasuk didalamnya dengan menerapkan sistem inklusi yang memberi kesempatan bagi siswa berkebutuhan khusus (special need students) dan terbuka menerima siswa dari berbagai latar belakang. Lazuardi haura GIS berada di perbukitan yang tenang di tengah kota Bandar lampung. Dengan pemandangan laut, sungai dan lereng bukit dengan udara yang sejuk, berada dekat dengan lokasi wisata alam, mendukung pembelajaran yang dekat dengan alam dan jauh dari polusi.Dengan konsep sekolah berorientasi alam menempatkan lingkungan sebagai laboratorium belajar yang tidak terbatas.

Thursday, April 21, 2011

Pesan Persatuan Islam dari Amman

Pesan Persatuan Islam dari Amman

Oleh: Tr. Rifa’i, S.Ag (Guru Agama Islam SD Lazuardi GIS)

Islam sebagai sebuah agama tidak terlepas dari goncangan keretakan ukhuwah para pemeluknya. Hal ini tentu sejarah mahal yang menjadi guru bagi kita agar keretakan tersebut tidak kembali terulang menerpa kehidupan keberagamaan kita. Keretakan ukhuwah Islamiyah sudah dimulai sejak wafatnya Rasulullah Muhammad SAW dengan munculnya nabi-nabi palsu, di masa sahabat-sahabat besar Rasul, bahkan perselisihan antara istri dan menantu Rasul adalah hal yang memerlukan kebijakan kita dalam memahaminya.
Muawiyah dan Ali adalah fakta sejarah yang menghasilkan tiga kubu besar aliran Islam yang berdampak pada pertumpahan darah. Tragedi mihnah yang terkesan memaksakan keyakinan pemimpin kala itu telah menambah rentetan luka ukhuwah sesama kaum muslimin, perpecahan kerajaan kerajaan Islam di abad pertengahan adalah kelemahan terbesar umat Islam dalam menjaga ukhuwah Islamiyah.
Dampak yang dirasakan di dunia moderen sekarang ini adalah Islam diidentikkan dengan kekerasan bahkan tudingan dunia Barat dengan wacana terorismenya telah menyayat kalbu kaum muslimin. Perbedaan yang muncul di antara kaum Muslimin hendaknya tidak perlu membuat kita mudah mengkafirkan seseorang namun hendaknya lebih menonjolkan kesamaan di antara kita.
Berkaitan dengan tudingan tersebut Raja Yordania, Abdullah II bin al-Hussein mengimbau tentang perlunya “reafirmasi Islam” bukan “reformasi Islam”, untuk menghadapi distorsi dan mispersepsi yang belakangan berkembang di kalangan Barat. Reafirmasi didasarkan pada prinsip-prinsip dasar keimanan Islam, yang telah berfungsi sebagai moderasi dan keseimbangan masyarakat-masyarakat Muslim selama lebihdari 14 abad. Menurut Raja Abdullah, kaum ekstremis di kalangan Muslim telah “mereformulasi” ajaran-ajaran Islam dengan mendistorsi dan meninggalkan ajaran Islam yang sebenarnya.
Sikap sang raja ini diwujudkan dalam bentuk risalah Amman yang diawali dengan sebuah pernyataan sederhana tetapi rinci yang dikeluarkan pada bulan Nopember 2004 di Amman. Ia menggambarkan apa itu Islam dan apa yang bukan, dan tindakan apa yang mewakilinya dan apa yang tidak. Tujuannya adalah untuk menjernihkan kepada dunia modern sifat sejati Islam dan sifat Islam sejati. Pada tahun 2005 Raja Abdullah II mengirimkan tiga pertanyaan kritis kepada 24 cendekiawan agama paling senior dari seluruh dunia yang mewakili semua cabang dan mazhab Islam:
  1. Siapakah seorang Muslim itu?
  2. Apakah boleh menyatakan seseorang sebagai seorang murtad (takfir)?
  3. Siapa yang memiliki hak-hak untuk mengeluarkan fatwa (ketetapan hukum)?
Berdasarkan fatwa-fatwa yang diberikan oleh para ulama besar ini (termasuk Sheikh Al-Azhar Ayatollah SIstanI dan Sheikh Qaradawi), pada bulan Juli 2005, Raja Abdullah II menyelenggarakan sebuah konferensi Islam internasional yang mengumpulkan 200 ulama Islam terkemuka dunia dari 50 negara. Para ulama yang secara musyawarah bermufakat mengeluarkan keputusan tentang tiga isu fundamental, yang kemudian dikenal sebagai 'Tiga Pasal':
  1. Mereka mengakui keabsahan kedelapan mazhab Sunni Hanbali, Sunni Hanafi, Sunni Maliki, Sunni Syafe'I, Syiah Ja'fari, Syiah Zaydi, Ibadi dan Zahiri. Teologi Islam tradisional (Ash'arisme); Mistisisme Islam (Sufisme); dan pemikiran Salafi sejati, dan berhasil membuat definisi yang tepat tentang siapa gerangan Muslim.
  2. Berdasarkan definisi ini mereka mengharamkan takfir (pernyataan kemurtadan seseorang) antara sesama Muslim.
  3. Mereka menetapkan prasyarat-prasyarat subyektif dan obyektif bagi dikeluarkannya fatwa sehingga dapat menyingkapkan ketetapan-ketetapan keliru dan tidak sah atas nama Islam.
Selama satu tahun, dari Juli 2005 hingga Juli 2006, tiga pasal diatas secara mufakat juga diterapkan oleh lebih dari 500 ulama Dokumen ini memiliki arti penting sangat besar karena ia menekankan pada konsensus (ijma') keagamaan dan politis berdasarkan sejarah, keuniversalan, dan kemufakatan bangsa-bangsa pada zaman kita sekarang, dan mengkonsolidasi Islam tradisional dan ortodoks. Ini adalah kali pertama dalam lebih dari seribu tahun ketika umat secara formal dan khusus bersepakat di tengah kejamakan untuk mengakui secara hukum keagamaan yang saling mengikat umat Muslim dan yang mengatasi permasalahan paling kritis yang dihadapi umat Muslim dewasa ini: kurangnya kesepakatan tentang apa yang dimaksud dengan Islam, dan karena itu kurangnya kesepakatan tentang siapa gerangan seorang Muslim, dan apa sesungguhnya Islam.
Tidak ada yang baru secara mendasar dalam Pesan Amman, atau yang membuatnya benar-benar otentik karena Islam adalah agama yang diwahyukan Tuhan, dan karena itu tidak dapat diubah oleh manusia.
Pesan Amman hanyalah merupakan pernyataan kembali secara tegas dan kristalisasi dari prinsip-prinsip bersama dari Islam tradisional, ortodoks, garis utama_dalam segala mazhab pemikiran dan hukum tradisionalnya_Islam yang menjadi milik sejumlah besar dan luas dari hampir 1,4 miliar Muslim sedunia.
Dengan kesadaran yang tepat, pendidikan dan pemahaman mengenai Pesan Amman dan Tiga Pasalnya, Insya Allah mencegah umat Muslim dipengaruhi oleh fatwa-fatwa tidak sah dan tergelincir menjadi takfir dan terorisme sebagai tindakan naluriah berlebihan menghadapi kemiskinan, ketidakadilan, dan kesalahan-kesalahan dalam kebijakan luar negeri Barat.Kesadaran yang tepat tentang Pesan Amman juga akan menyingkap pendapat-pendapat tidak sah dari para fundamentalis dan teroris radikal, membantu mencegah seruan-seruan di dunia Barat akan sikap permusuhanya terhadap umat Muslim.
Pesan Amman merupakan berita baik, tidakhanya bagi umat Muslim tetapi juga bagi dunia. Ia memastikan penyelesaian- penyelesaian Islami yang seimbang bagi isu-isu mendasar seperti hak-hak asasi manusia, hak-hak perempuan, kebebasan beragama, jihad yang sah, tata kewarganegaraan yang baik bagi umat Muslim di negara-negara non-Muslim, dan pemerintah yang adil dan demokratis_semua isu kunci yang mendasar bagi perdamaian dan kerukunan dunia.
Agar Pesan Amman tidak hanya menjadi perjanjian bersejarah mengenai prinsip- prinsip dasar, berbagai langkah sedang diambil untuk memperkenalkannya melalui sarana-sarana pragmatis dan institusional, seperti: perjanjian antar-Islam; hukum nasional dan internasional yang menggunakan Tiga Pasal Pesan Amman untuk menjelaskan Islam dan melarang takfir; penggunaan terbitan dan multi- media dengan segala aspeknya untuk menyebarluaskan Pesan Amman; melembagakan ajaran Pesan Amman dalam kurikulum sekolah dan kuliah-kuliah pada universitas di seluruh dunia; dan membuatnya bagian dari pelatihan Imam- imam masjid yang akan mengikutsertakannya dalam ceramah- ceramah mereka.
Implementasi Pesan Amman dalam kurikulum Lazuardi adalah bagian dari pengajaran sikap keterbukaan bagi siswa kita dengan berbagai macam mazhab dalam Islam. Namun dalam wilayah fiqih ibadah tentu tidak mengadopsi semua mazhab karena akan membuat siswa kebingungan bahkan mungkin akan terjebak pada sikap talfik. Oleh karenanya, selama ini penerapan kurikulum yang telah dijalankan di sekolah Lazuardi adalah fiqih Sunni Syafe'i./(RFI)