Lazuardi haura GIS

My photo
Bandar Lampung, Lampung, Indonesia
Lazuardi Haura Global Islamic School cabang dari Lazuardi Global Islamic School- Pusat, adalah sekolah-sekolah yang berada dibawah naungan yayasan Lazuardi Hayati, yang diketuai oleh Dr. Haidar Bagir, dengan konsultan pendidikan Munif Chatib dan sayd Hedar Ali. Merupakan sekolah yang berwawasan global dan menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan pendidikan (KTSP) dan mengadopsi kurikulum internasional dan standar dari University Of Cambridge International Examinations serta berpandangan islam progresif, mengedepankan pemahaman mengenai perbedaan dan toleransi, termasuk didalamnya dengan menerapkan sistem inklusi yang memberi kesempatan bagi siswa berkebutuhan khusus (special need students) dan terbuka menerima siswa dari berbagai latar belakang. Lazuardi haura GIS berada di perbukitan yang tenang di tengah kota Bandar lampung. Dengan pemandangan laut, sungai dan lereng bukit dengan udara yang sejuk, berada dekat dengan lokasi wisata alam, mendukung pembelajaran yang dekat dengan alam dan jauh dari polusi.Dengan konsep sekolah berorientasi alam menempatkan lingkungan sebagai laboratorium belajar yang tidak terbatas.

Wednesday, April 20, 2011

Tantangan dan Peluang Sekolah Dwibahasa

Tantangan dan Peluang Sekolah Dwibahasa

Ferly Fauzia Arlini (Kepala Sekolah TK Lazuardi GIS - Cinere)

(tulisan ini telah dipublikasikan di Harian Media Indonesia pada Senin, 10 Januari 2011)
Memasuki semester kedua tahun ajaran 2010/2011, berbagai sekolah mulai menjajakan diri untuk menjaring calon siswa untuk tahun ajaran berikutnya. Iklan, promosi dan publikasi diluncurkan dengan mengusung keunggulan sekolah bersangkutan demi menarik perhatian para calon orangtua siswa. Salah satu yang banyak ditawarkan adalah klaim sebagai sekolah bilingual atau dwibahasa yang menggunakan pengantar Bahasa Inggris di samping Bahasa Indonesia.
Penyelenggaraan forum ini bertujuan untuk sharing pengalaman dari berbagai negara mengenai proses pembelajaran matematika yang telah dilakukan di setiap sekolah yang menggunakan My Pal's Are Here sebagai buku penunjang proses belajar.
Makna Sekolah Dwibahasa
Kehadiran sekolah dwibahasa dipicu oleh reformasi pendidikan yang mengizinkan sekolah untuk memodifikasi kurikulum khasnya dengan antara lain memasukkan unsur kurikulum asing ke dalam kurikulum nasional atau mendirikan sekolah dan kelas berstandar internasional. Kurikulum asing yang banyak menjadi pilihan adalah yang berasal dari Inggris, Australia, New Zealand dan Amerika Serikat. Selain itu, beberapa sekolah memilih menggunakan buku ajar berbahasa Inggris dari beberapa negara tanpa terikat pada kurikulum asing tertentu. Kedua cara ini tak pelak menuntut penggunaan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar di sekolah.
Sejarah sekolah bilingual diawali di Kanada dan Amerika Serikat. Sistem ini bertujuan memfasilitasi siswa minoritas yang hanya mampu berbahasa asing sebelum mereka mampu berbahasa utama (baca: Bahasa Inggris) dengan baik. Setelah jenjang tertentu diharapkan siswa telah mampu mengikuti kegiatan belajar dalam Bahasa Inggris dan menanggalkan penggunaan bahasa kedua tersebut (Lindholm-Leary, 2001). Di Kanada yang mengakui penggunaan Bahasa Inggris dan Prancis, bahasa kedua dimaksud adalah Bahasa Prancis. Sementara di Amerika Serikat bahasa kedua tersebut adalah Bahasa Spanyol – dilatarbelakangi banyaknya imigran dari negara-negara tetangga di Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Di sekolah-sekolah di Indonesia, menilik fungsi Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar yang sejajar kedudukannya dengan Bahasa Indonesia, maka sesungguhnya istilah bilingual adalah kurang tepat. Hal ini terutama karena penggunaan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar hanya dilaksanakan pada tiga mata pelajaran yaitu Matematika, Sains dan English as Second Language. Bahasa Indonesia masih diperlukan sebagai bahasa pengantar berbagai mata pelajaran lain – di antaranya mata pelajaran yang dianggap ”penting” seperti Pendidikan Kewarganegaraan dan Pendidikan Agama – maka untuk kasus di Indonesia, istilah dual language education system adalah pilihan yang lebih sesuai.
Penerapan Sistem yang Baik
Peluang menyisipkan kurikulum asing dalam kurikulum nasional tentu merupakan langkah positif untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Namun di lain pihak kebebasan ini tak jarang membuat sekolah kurang berhati-hati dalam memutuskan menjadi sekolah berdwibahasa. Diharapkan dalam penerapannya sekolah tidak lalai bahwa label dwibahasa ini menuntut konsekuensi yang tidak ringan.
Menjadi sekolah dwibahasa yang berhasil tidaklah cukup hanya berbekal semangat dan niat baik. Tidak seperti di Amerika Serikat, yakni program dwibahasa mendapat dukungan penuh dari pemerintah, di Indonesia sekolah dwibahasa harus mengandalkan kepemimpinan dan manajemen sekolah yang kuat.Pihak manajemen dan para guru harus memahami secara mendalam tentang model pendidikan dwibahasa, pembelajaran bahasa kedua, metodologi pengajaran dan praktik-dalam-ruang-kelas yang efektif
Program dwibahasa yang berhasil harus terpadu dengan segenap kurikulum sekolah. Hal ini berarti pembuat kebijakan harus menyadari posisi program ini dalam merancang kurikulum dan tujuan instruksional semestinya mencakup kemampuan bahasa dan materi pelajaran secara terintegrasi. Karena umumnya sistem dwibahasa dimulai di kelas satu SD, hal pertama yang patut dipertanyakan adalah kesiapan sekolah dalam memperkenalkan bahasa asing secara langsung dalam kegiatan akademik (content area). Siswa usia dini dituntut tidak hanya mengenal Bahasa Inggris sebagai bahasa pergaulan, tetapi juga menggunakannya untuk memahami aspek teknis mata pelajaran. Misalnya ketika seorang siswa berusaha memahami kata penjumlahan – suatu konsep baru yang bahkan perlu dicerna mendalam dengan bahasa ibunya - ia juga harus mengerti satu konsep lain dalam bahasa kedua yaitu addition. Siswa harus diajak berfikir secara aktif bahwa kedua konsep itu adalah sama.
Syarat kedua adalah adanya lingkungan yang mendukung. Mempelajari suatu bahasa baru akan lebih mudah dalam situasi penyerapan (immersion), di mana siswa tanpa sadar mempelajari bahasa kedua tersebut secara tidak langsung melalui kegiatan mendengar dan berbicara secara aktif. Akan sangat mudah jika siswa dan guru penutur asli tersedia dalam jumlah seimbang sehingga siswa pembelajar bahasa asing mendapatkan paparan Bahasa Inggris yang memadai. Situasi ini terpenuhi di sekolah-sekolah internasional yang sejak awal menjadikan penduduk asing sebagai pangsa pasarnya. Namun bagaimana dengan sekolah lokal yang bertekad menerapkan sistem dwibahasa dengan civitas academica berbahasa Inggris dalam jumlah terbatas? Tentu perlu usaha lebih keras untuk mewujudkan sistem dwibahasa yang tidak sekadar berhenti sebagai slogan. Manajemen sekolah harus tegas dalam merekrut guru dengan kefasihan berbahasa Inggris sehingga bisa membantu menciptakan lingkungan yang mendukung. Selain itu karena kelancaran berbahasa Inggris dan ketrampilan menyampaikan materi pelajaran dalam bahasa tersebut adalah dua hal yang berbeda, maka sekolah harus melaksanakan pelatihan berkelanjutan bagi para guru untuk meyakinkan mereka dapat mengampu pelajaran dalam Bahasa Inggris dengan baik melalui berbagai metode, pendekatan dan alat bantu (Facella, Rampino, & Shea, 2005).
Syarat ketiga adalah memantau perkembangan kemampuan siswa dalam penguasaan Bahasa Inggris. Tes materi pelajaran dalam Bahasa Inggris jika tidak dicermati akan menjebak siswa untuk hanya menghafalkan istilah dan rumusan teknis tanpa sepenuhnya memahami esensi berpikir dalam bahasa asing tersebut. Bisa jadi guru pun terjebak mencari jalan pintas untuk mengarahkan siswa untuk ”belajar praktis” demi lulus tes tanpa menciptakan kefasihan berbahasa dan berpikir akademik. Untuk menghindari hal tersebut selayaknya sekolah merancang sistem pemantauan dan penilaian perkembangan penguasaan Bahasa Inggris yang terpisah dari penilaian mata pelajaran. Penilaian standar mengukur penguasaan kosakata, tatabahasa dan kefasihan berbicara dan menulis.
Perlu dilakukan pula penilaian nonstandar seperti observasi dan pencatatan anekdot perilaku siswa dalam berbahasa. Jauh sebelum penilaian dilakukan, harus terdapat dukungan tambahan bagi siswa yang mengalami kesulitan mempelajari bahasa baru ini antara lain dengan sesi remidial khusus.
Terakhir, namun tak kalah penting, di tengah-tengah semangat berbahasa Inggris harus tetap terdapat perhatian utuh untuk mempelajari dan menanamkan kebiasaan berbahasa Indonesia dengan baik. Riset membuktikan bahwa penguasaan bahasa ibu yang kuat akan menunjang kelancaran mempelajari bahasa kedua. Sebaliknya, jika anak dipaksa menggunakan bahasa kedua terlalu dini tanpa penguatan pada bahasa ibunya secara memadai, terdapat kemungkinan anak akan memunculkan gejala semilingualism atau substractive bilingualism, di mana ia tidak mampu berbicara, membaca atau menulis dalam kedua bahasa tersebut dengan baik.
Peluang Sekolah Dwibahasa.
Sebagai kecenderungan baru, program dwibahasa di Indonesia menghadapi banyak tantangan dan sekolah harus bekerja keras mencari teknik dan metode pelaksanaan yang terbaik. Namun hal itu layak dilakukan karena banyaknya keuntungan bagi siswa yang menguasai dua bahasa. Riset menunjukkan siswa mampu mencapai kefasihan fungsional dalam bahasa kedua tanpa berpengaruh buruk terhadap perkembangan bahasa ibu maupun pencapaian akademiknya. Mereka juga memiliki keunggulan kognitif dan linguistik dibanding siswa yang hanya menguasai satu bahasa. Dari sudut pandang sosial-ekonomi, kefasihan dalam dua bahasa memungkinkan siswa berkomunikasi dengan lebih banyak kelompok etnis lain. Juga, sebagaimana sering dikampanyekan oleh sekolah, menguasai bahasa internasional tidak dipungkiri akan memberi kesempatan lebih luas dalam dunia global (Cloud, Genesee, & Hamayan, 2000). Khusus di Indonesia, sistem dwibahasa menjadi perangkat penting dalam kurikulum yang diperkaya untuk menyempurnakan kekurangan yang ada dalam kurikulum standar nasional. Peluang pertumbuhannya sangat tergantung pada kebijakan yang benar dan manajemen sekkolah yang kredibel dan memiliki kemampuan serta kemauan yang kuat dan konsisten.