“Bila kita cermati dalam sebuah keluarga, tentu memiliki ciri khas berbeda dan keunikan masing-masing, terutama pada anak-anak. Oleh sebab itu sebagai orang tua, sudah seharusnya memberi ruang yang luas demi kebebasan berekspresi ini. Tentunya, di balik itu orang tua tetap mengarahkan sang anak pada hal yang positif,” ungkap Shita.
Dia menambahkan, termasuk dalam hal memilih pendidikan dan jalur sukses sang anak. Orang tua sudah sewajarnya menjadi fasilitator yang baik. Sehingga dalam perjalanannya, anak akan merasa nyaman dan senang dalam  menjalani aktivitasnya dengan ikhlas.
Contoh sederhananya, ketika sang anak memiliki potensi bidang musik, maka seoptimal mungkin perhatian orang tua mengarahkan pada bidang itu. Bukan sebaliknya, memaksanya dengan bidang yang tidak dikehendakinya.
“Pada dasarnya, kecerdasan individu wajib diasah dan diarahkan pada hal positif. Banyak di contoh yang dapat kita lihat, ketika seseorang menikmati pekerjaan yang dilakukan, maka bakal sukses pada bidang tersebut, begitu sebaliknya. Pun demikian, kecerdasan yang dimiliki individu adalah pintu gerbang untuk meraih kesuksesan dan kecerdasan yang lainnya.
Untuk itu, kami berharap pada orang tua jangan pernah membunuh kecerdasan sang anak dan memaksakan kehendak padanya. Sebab pada prinsipnya, orang tua dan lingkungan merupakan guru dari inspirator dari anak –anak kita” ungkap Ketua Yayasan Lazuardi Haura ini.(ferika)