Lazuardi haura GIS

My photo
Bandar Lampung, Lampung, Indonesia
Lazuardi Haura Global Islamic School cabang dari Lazuardi Global Islamic School- Pusat, adalah sekolah-sekolah yang berada dibawah naungan yayasan Lazuardi Hayati, yang diketuai oleh Dr. Haidar Bagir, dengan konsultan pendidikan Munif Chatib dan sayd Hedar Ali. Merupakan sekolah yang berwawasan global dan menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan pendidikan (KTSP) dan mengadopsi kurikulum internasional dan standar dari University Of Cambridge International Examinations serta berpandangan islam progresif, mengedepankan pemahaman mengenai perbedaan dan toleransi, termasuk didalamnya dengan menerapkan sistem inklusi yang memberi kesempatan bagi siswa berkebutuhan khusus (special need students) dan terbuka menerima siswa dari berbagai latar belakang. Lazuardi haura GIS berada di perbukitan yang tenang di tengah kota Bandar lampung. Dengan pemandangan laut, sungai dan lereng bukit dengan udara yang sejuk, berada dekat dengan lokasi wisata alam, mendukung pembelajaran yang dekat dengan alam dan jauh dari polusi.Dengan konsep sekolah berorientasi alam menempatkan lingkungan sebagai laboratorium belajar yang tidak terbatas.

Tuesday, March 27, 2012

Hindari Kata Jangan




    Selasa, 27 Maret 2012

    Sebisa Mungkin Hindari Kata 'Jangan'
    Tribun Lampung - Sabtu, 8 Oktober 2011 08:57 WIB





    Keluarga.jpg
    refreshing_keluarga.jpg
    Diakui Shita, kesehariannya sebagai seorang tenaga pendidik (guru), tidak mengganggu aktivitas dalam keluarganya. Bahkan, kegiatannya turut mendukung pendidikan bagi anak-anaknya. Sebab bagi ibu dua anak ini, dalam penerapannya pendidikan formal tidak berbeda halnya dengan pendidikan nonformal.

    Ia mengaku mengarahkan sang buah hati sesuai dengan kemampuan dan kemauan anaknya. Di antara tips yang digunakannya, yakni disiplin positif, tidak melabeli anak dengan label negative yang akan  membuat anak tidak sensitive dengan kebaikan.

    “Dalam keseharian, sebisa mungkin saya menghindari kata “tidak atau jangan” dengan anak-anak . Misalnya, menasihati anak dengan kata-kata positif dan lebih mengingatkannya  pada konsekwensi dari  yang dilakukannya. Juga jangan pernah melabeli anak dengan kata negatif, seperti anak nakal, bandel dan sebagainya.

    Karena hal ini justru akan merusak sang anak, bukan tidak mungkin label ini bakal menjadi kebanggaan dan alasan bagi mereka untuk melakukan hal negatif. Terpenting, bagaimana kita mampu menjadi sahabat bagi anak kita, dengan ini mereka bakal lebih dekat dan terbuka pada orangtuanya,” ujarnya.

    Dia melanjutkan, sistem pendidikan dan arahan yang dilakukan dalam keluarganya, tidak berbeda dengan yang diterapkannya di tempatnya mengajar. Sebab pada dasarnya, pendidikan formal dan nonformal yang diberikan, tidak bakal jauh berbeda dengan keseharian yang dilakukannya.

    Meski banyak tugas dan kewajiban yang harus dilakoninya sebagai seorang guru, namun Ia mengaku tidak larut dalam kesibukannya. Dirinya sadar, di samping menjalani karier pada dunia pendidikan. Tugasnya sebagai ibu rumah tangga dan istri tidak boleh dilupakannya. Baginya, porsi keluarga tetap menjadi prioritas dan nomor satu. Termasuk pada tumbuh kembang sang anak dalam lingkungan keluarga dan sekitarnya.

    “Bagi saya keluarga merupakan hal terpenting di atas segalanya. Jadi meski sibuk, saya tetap melakukan komunikasi dan kontrol optimal bagi perkembangan mereka, termasuk dalam mengurus suami. Termasuk di dalamnya memberikan pendidikan dan proses perkembangan buah hati dalam segala halnya,” ungkap wanita berjilbab ini.(ferika)

    Editor : soni
    Akses lampung.tribunnews.com lewat perangkat mobile anda melalui alamat lampung.tribunnews.com/m